Kali ini kita mengulas sekilas secara iseng-iseng saja tentang makna kata dari slogan “Orang bijak taat pajak“ yang sering didengung-dengungkan. Bahkan slogan tersebut terpampang dengan ilustrasi gambar di halaman depan situs Dirjen Pajak, yang bisa diakses di sini. Memang tidak menyebutkan slogan secara lengkap, cuma ajakan: “Ayo Taat Pajak!“.

 

“Ayo Taat Pajak“ di website Dirjen Pajak

 

Presiden pun tidak ketinggalan mengutip slogan tersebut dalam sambutannya pada acara penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak 2011 pada hari Senin, 19 Maret 2012, di Aula Mezzanine, Gedung Djuanda, kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta. Kita kutip sebagian penyataan Presiden di situs dirjen pajak di sini:

Masyarakat harus taat membayar pajak karena pajak penting untuk dana membangun negara yang ujungnya untuk peningkatan kesejahteraan. Semoga kepatuhan dan kesadaran ini terus berkembang di negara kita. Saya lihat di jalan-jalan ada tulisan orang bijak bayar pajak. Semoga kita dituntun semua menjadi orang yang bijak,” himbau Presiden.

 

Presiden mengajak jadi orang bijak dengan bayar pajak (sumber foto: www.pajak.go.id)

 

 

*****

 

Kita lihat makna secara harfiah dari kata: “bijak“ dan “taat“ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring (bahasa baku dari “online“) yang bisa diakses di sini.

bi•jak a 1 selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir: bukan beta — berperi; engkau memang –;  atau 2 Mk pandai bercakap-cakap; petah lidah;

ta•at a 1 senantiasa tunduk (kpd Tuhan, pemerintah, dsb); patuh: Nabi Muhammad saw. menyeru manusia supaya mengenal Allah dan — kepada-Nya; 2 tidak berlaku curang; setia: ia adalah seorang istri yg –; 3 saleh; kuat beribadah: jadilah Anda seorang muslim yg –;
– sumpah menaati sumpah yg diucapkan; …“

Hmm, jadi bisa diartikan bahwa taat pajak itu merupakan ciri dari orang yang menggunakan akal budinya, pandai, dan mahir. Atau, frasa “taat bayar“ secara harfiah identik dengan frasa “taat kepada nabi“. Mohon maaf, ini utak-atik kata-kata saja, tidak bermaksud menyejajarkan ketaatan bayar pajak dengan kayakinan agama.

Mungkin yang lebih tepat atau mendekati makna sebenarnya adalah pengertian taat sebagai “tidak berlaku curang“. Jadi orang bijak tidak akan berlaku curang, yaitu dengan tidak taat bayar pajak. Apalagi jika kekayaan dan hartanya tergolong berlimpah.

*****

Adakah kata atau frase “orang bijak“ pada peraturan perundangan? Kita simak dulu undang-undang perpajakan. Makna orang bijak bisa disematkan pada individu atau badan yang disebut sebagai “wajib pajak“.

Sebelum kita lihat makna wajib pajak atau obyek pajak, kita lihat dulu tentang undang-undang yang berkenaan dengan pajak ini. Ternyata, beberapa Undang-Undang tergolong “jadul“ karena sebagian besar diterbitkan pada tahun 1983, walaupun sudah ada beberapa kali adendum atau perubahan, misalnya:

  1. Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan
  2. Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

Pemerintah sendiri memang berniat untuk melakukan penggantian undang-undang perpajakan, seperti diberitakan di sini. Niatnya tentu saja untuk semakin meningkatkan penerimaan pajak. Bukan hanya pemerintah saja, warga negara pun telah melakukan permohonan uji materi (udicial Review) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Namun upaya tersebut ditolah Mahkamah Konsitusi seperti tercantum dalam siaran pers dari Dirjen Pajak di sini.

Nah sekarang kita balik lagi ke istilah “wajib pajak“. Acuannya adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan. Pada pasa 1 ayat 2 tertulis:

Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Apa saja hak dan kewajiban wajib pajak, silakan lihat saja pada naskah undang-undangnya di sini.

*****

Jadi, benarkan logikanya jika dari slogan itu saya katakan:

“Orang tidak bijak tidak taat pajak”, atau

“Orang taat pajak pasti orang bijak”.

Menurut Saya, memang slogan “Orang bijak taat pajak” lebih mengedepankan ajakan bagi semua warga negara agar taat membayar pajak karena secara teoritis, penerimaan pajak tersebut akan digunakan oleh negara untuk membangun bangsa juga. Dan makna yang lebih penting, orang bijak pun tidak hanya disematkan pada pembayar pajak, namun berlaku juga bagi pemanfaatan pajak oleh pemerintah.

Meskipun topik kali ini iseng-iseng saja, apa pendapat Anda tentang slogan tersebut?

30 Responses to “Orang Bijak Taat Pajak, Benarkah?”

  1. Maulidia
    27. May, 2012 at 1:26 am #

    Kita sering mendengar ajakan “Orang Bijak Taat Pajak”. Memang, sejatinya apabila kita mementingkan dan bahkan memenuhi kewajiban bangsa maka tidak pelak lagi kalau seluruh warga bangsa yang telah memiliki kewajiban obyektif dan subyektif perpajakan akan menempatkan kewajiban perpajakan sebagai paling utama
    Akankah arti bijak dalam konteks pemenuhan kewajiban ke negara dalam bentuk pajak selalu diarahkan kepada wajib pajak. Pemangku kepentingan tidak hanya ditujukan kepada masyarakat individu dan badan usaha. Tetapi, bahkan yang paling dikedepankan adalah peran menyeluruh dari petugas pajak dalam memberikan penyuluhan dan memahami secara mendasar kalimat demi kalimat yang mengandung makna pada setiap peraturan. Kemungkinan terciptanya masyarakat sadar pajak merupakan satu pekerjaan rumah. Sejauh mana intensitas keterlibatan penuh dari pemerintah untuk memberdayakan arti dan manfaat dari pajak ini sendiri. Ketangguhan dan penguasaan materi atas ruang lingkup persoalan landasan utama. Sering kali ditemui adanya ketidakmampuan petugas pajak di lapangan memahami sisi yang paling penting dari perpajakan. Menciptakan budaya “Orang Bijak Taat Pajak” tidak cukup hanya ditujukan kepada pembayar pajak

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:12 pm #

      Orang Indonesia mungkin paling pintar membuat jargon atau slogan ya, namun kurang di tingkat implementasinya. Indonesia pun masih menggantungkan ke penerimaan pajak untuk membangun negeri ini.
      Trims ya

  2. ESRAWATI NAINGGOLAN
    28. May, 2012 at 1:53 am #

    Slogan “Orang bijak taat pajak” dianggap sbg ajakan kepada masyarakat untuk bijak dan taat dalam membayar pajak. Menurut sy, slogan itu sudah seharusnya diganti. Realisasi dilapangan yang kita lihat/ dengar/ baca baik melalui media cetak, elektronik & online, pegawai pajak sendiri apakah sudah menjadi orang/ manusia bijak dan taat pajak dimana mereka yang selalu memberikan penyuluhan tentang perpajakan kpd masyarakat. Kita lihat salah satunya GAYUS TAMBUNAN, pegawai pajak dengan golongan biasa bisa memilki harta berlimpah dan memiliki banyak uang diberbagai rekening ternyata itu semua hasil korupsi kongkalikong dengan beberapa perusahaan besar di Indonesia. sungguh menyedihkan negara kita. Slogan yang memiliki makna yang dalam dan luas ternyata hanya sebagai simbolis. Tidak berhenti disitu saja, muncul lagi pengikut Gayus yaitu Dhana yg diduga korupsi pajak dan tidak menutup kemungkinan akan mmuncul GAYUS DKK. Hal itu harusnya menjadi pertimbangan bagi pihak DIRJEN PAJAK apakah slogan itu tetap dipertahankan atau malah menjadi bahan tertawaan masyarakat yang mengubah slogan itu menjadi ” yuk jadi pegawai pajak, korupsi gede-gedean”. Mau dibawa kemana negeri kita jika didiami orang2 korupsi sedangkan banyak rakyat miskin yang butuh perhatian pemerintah????

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:15 pm #

      Kalo diganti slogannya, kira2 apa ya yang lebih baik dan membumi? Tapi jangan slogan: ” yuk jadi pegawai pajak, korupsi gede-gedean” spt yang Ersa tulis. Tetap optimis dan semangat :) trims ya

  3. FREDDY A SILABAN
    28. May, 2012 at 4:51 am #

    “Orang Bijak Taat Pajak” ungkapan ini bermakna konotasi,mempunyai makna yang luas.Ada beberapa faktor kenapa suatu instansi atau perorangan tidak membayar pajak :
    1. Sasaran pajak untuk kesejahtraan masyarakat tidak tepat sasaran.
    artinya begitu banyak sarana-sarana umum yang tidak di bangun,
    misalnya jalan raya, jembatan, irigasi , dan lain-lain.
    2. Banyak pegawai pajak teseret kasus korupsi.
    3. Krisisnya kepercayaan masyarakt terhadap perpajakan.

    ada beberapa hal yang perlu di perbaiki , supaya masyarakar taat pajak yaitu perlu pembenahan diri pegawai pajak, sasaran yang jelas penggunaan pajak, prosedur pembayaran sesuai dengan UUD 1945.

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:18 pm #

      Hmm, masa sih banyak orang pajak yang bermasalah? Rasanya saya percaya, sebagian besar masih baik dan jujur. Yang mencuat ke permukaan memang sedikit ya :) Mudah2an masyarakat tetap percaya ke patugas atau dirjen pajak.
      Trims ya

  4. Deagestano Hendika Saputra
    28. May, 2012 at 1:04 pm #

    menurut saya ..orang bijak taat pajak itu hanya sebuah iklan layanan masyarakat yang di buat sedemikian rupa agar mendoktrin masyarakat awam dan lainnya untuk segera membayar pajak dengan alasan pajak di gunakan untuk keprluan pembangunan ..tapi nyatanya pajak tidak di gunakan dengan semestinya malah hasil pajak di gerogoti oleh oknum yg tidak bertanggung jawab.

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:19 pm #

      Saputra punya usulan slogan yang kira2 pas? tapi jangan yang negatif ya :)
      Trims ya

  5. Wahab
    28. May, 2012 at 1:09 pm #

    menurut pandangan saya.. dari topik yang telah di bahas menarik sakali untuk di perbincangkan soalnya sedang hangat2nya di perbincangkan ,mengenai masalah pajak memang ada yang bilang orang bijak taat pajak itu merupakan statement propagatif yang menganjurkan oarang2 untuk membayar pajak ,sekarang kita lihat banyak kasus2 korupsi yang melibatkan pejabat derektorat pajak hal ini sangat riskan dalam memperoleh kepercayaan masyarakat untuk tidak memebayar pajak karena tidak adanya transparansi yang jelas dan hasilnya pun tidak jelas ,mau di bawa kemana uang pajak itu.

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:22 pm #

      Mudah2an masyarakat tetap bayar pajak ya, karena banyak juga kok penggunaan pajak yang tepat sasaran :)
      Trims ya

      • Wahab
        02. Jun, 2012 at 5:20 pm #

        yoi bayar pajak sesuai dengan waktunyaa…demi pembangunan walau ada penyalagunaan ya tetapi pajak pelu sebagai sumber keuangan negara

  6. Feni Suharti
    29. May, 2012 at 4:24 pm #

    Kalau menurut pendapat saya, mengenai slogan “Orang Bijak Bayar Pajak” diatas hanya sebatas imbauan/ ajakan kepada masyarakat Indonesia untuk membayarkan pajaknya. Slogan hanyalah tetap menjadi slogan jika slogan tersebut tidak dilaksanakan, kembali kepada diri kita masing masing dalam memahami arti membayar pajak itu sendiri. Jika kita paham betul bahwa pajak itu merupakan kewajiban, maka jadikanlah Pajak itu bagian dari kewajiban kita yang harus kita laksanakan, yang harus diselesaikan dan harus dilakukan. Bijak? memang betul orang yang membayar pajak itu bijak, karena dia telah patuh dan taat akan pelaksanaan kewajibannya. Dan memang tidak salah juga jika dikatakan ada yang tidak membayar pajak itu berarti tidak taat dan tidak bijak, itu betul.. karena kan dia berarti sudah tidak taat dan bijak kepada kewajiban dirinya dan kewajibannya sebagai suatu warga dari suatu negara. Mengenai masalah koruptor yg memakan uang pajak itu bukan berarti kita sebagai warga negara menjadikannya pandangan yang menjadikannya kita tidak melaksanakan kewajiban kita. sekecil apapun suatu titik keburukan jangan pernah jadikan itu sebagai acuan kita sehingga kita tidak melaksanakan kewajiban kita. Kewajiban tetaplah suatu keharusan yang harus dilaksanakan tanpa melihat adanya kesalahan dipihak lain. Dan koruptor kan sifatnya hanya sementara karna sepintar apapun dia bermain curang, suatu saat akan tertangkap juga. :D
    kita merupakan influencer terbesar dalam upaya pencapaian cita-cita negara. kalau bukan dari kita yang melakukan perubahan untuk negaranya, lalu siapa lagi?

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:24 pm #

      Slogan hanya sebagai upaya untuk mengingatkan pajak aja ya? Mudah2an pajak kita makin besar dari digunakan sebesar2nya untuk kemajuan negeri ini.

      Trims ya

  7. Rindy Agustin
    30. May, 2012 at 12:34 pm #

    Menurut saya dengan slogan Orang Bijak Taat Pajak,Namun Penggunaan pajak yang pasti adalah untuk tambahan pendapatan negara, selain dari ekspor, penerbitan obligasi, SBI dan pinjaman luar negeri. Alokasinya mulai dari pembangunan infrastruktur, investasi, hingga subsidi pemerintah terlepas dari penyelewengan oknum2 tertentu, bukan berarti wajib pajak kemudian tidak membayar pajak. Saat ini pemerintah sudah melakukan berbagai usaha untuk mengurangi kebocoran2 anggaran negara, diantaranya dengan peranan KPK.
    Tetapi akankah arti bijak dalam konteks pemenuhan kewajiban ke negara dalam bentuk pajak selalu diarahkan kepada wajib pajak. Pemangku kepentingan tidak hanya ditujukan kepada masyarakat individu dan badan usaha.Dengan kemungkinan terciptanya masyarakat sadar pajak merupakan satu pekerjaan rumah.Sejauh mana intensitas keterlibatan penuh dari pemerintah untuk memberdayakan arti dan manfaat dari pajak ini sendiri. Ketangguhan dan penguasaan materi atas ruang lingkup persoalan landasan utama. Sering kali ditemui adanya ketidakmampuan petugas pajak di lapangan memahami sisi yang paling penting dari perpajakan. Menciptakan budaya “Orang Bijak Taat Pajak” tidak cukup hanya ditujukan kepada pembayar pajak, bahkan bisa disebut dengan “Orang Cerdik Tidak Punya NPWP, dan Orang Beruntung Tidak Tertangkap Walaupun Tidak Punya NPWP”.
    Namun di sisi lainnya, pajak juga dipahami sebagai sumbangan paksaan dari penguasa yang digunakan untuk memperoleh uang atau pemasukan. Keberadaan pajak yang dipahami sebagai suatu paksaan tentunya juga akan muncul, yaitu adanya perlawanan wajib pajak berbentuk keengganan berupa penghindaran membayar pajak. Ada berbagai alasan masyarakat sebagai wajib pajak menolak atau menghindari membayar pajak, diantaranya masih minimnya penghasilan, akan berkurangnya harta, tidak jelasnya distribusi pajak, dan kekhawatiran terjadinya penggelapan pajak. Dengan salah satu contohnya “Munculnya kasus Gayus Tambunan”, betapa rakyat merasa didzholimi dan dikhianati, oleh praktek-praktek penggelapan pajak dengan berbagai modus. Perasaan kecewa dan marah kemudian memunculkan sebuah pembenaran yang diwujudkan dengan sebuah keengganan terhadap kewajiban negara (membayar pajak) itu.
    Lantas, apakah kemudian dijadikan sebuah alasan untuk melakukan Kekhawatiran dan keengganan membayar pajak ? Tentu tidak, perlu solusi yang cerdas, dengan kesadaran bersama melaksanakan kewajiban, selain itu harus ada transparansi pendistribusian hasil pajak dan perlunya pengawasan yang ketat bagi para petugas pajak. Pengawasan tidak hanya internal, melainkan juga eksternal. Dibutuhkan peran masyarakat untuk mengawasi dan diperlukan peningkatan akuntabilitas bagi Direktorat Jenderal Pajak, dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah tentang adanya audit dari BPK atau lembaga lain yang berkompeten. Jadi, tidak perlu ada lagi dilematisasi bagi wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya membayar pajak .

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:27 pm #

      Intinya semua pihak atau individu menjalankan perannya dengan baik ya :) Tetap semangat dan optimis bahwa pajak akan digunakan sebaik2nya, termasuk ketika generasi muda mulai memimpin di depan.

      Trims ya

  8. Dedek Darmadi
    30. May, 2012 at 1:47 pm #

    “Orang bijak bayar pajak?” sepertinya saat ini slogan tersebut hanya sebatas tulisan saja, belum dimengerti dengan baik makna sesungguhnya dan dikerjakan seperti anjurannya. Karena tidak semua orang bijak bayar pajak dengan banyaknya orang bijak ataupun orang-orang yang menganjurkan bayar pajak malah memanfaatkan keadaan dengan mengambil uang pajak itu untuk menimbun kekayaannya, maka hal tersebut membuat masyarakat berfikir dulu sebelum membayar pajak dengan artian semakin banyak masyarakat tidak membayar pajak. Dimulai dari peawai pajak yaitu “Gayus Tambunan” yang mengambil uang pajak untuk kepentingan pribadi dan sekarang sedang menjalani hukuman atas perbuatannya. Hal tersebut tidak menambah kapok pegawai pajak yang lain malah ada yang mengikuti jejak “Gayus” apabila hal ini tetap dibiarkan maka akan banyak bermunculan gayus-gayus yang lain dan semakin banyak juga masyarakat yang tidak mau membayar pajak/bahkan mungkin tidak ada yang membayar pajak, kalau hal tersebut terjadi “mau dibawa kemana negara kita ini?”

    Saran saya agar mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pegawai pajak dan semua masyarakat akan membayar kewajibannya sebagai warga negara maka pegawai pajak harus mempunyai keimanan yang kuat agar kejadian gayus tidak terulang kembali. Dengan keimanan yang kuat maka keinginan utntuk korupsi mungkin tidak akan terjadi lagi. Agar keimanan pegawai pajak bertambah baik saya sarankan agar mengadakan siraman rohani/pengajian setiap minggunya dan harus dijadwalkan/kewajiban setiap pegawai pajak.
    Semoga slogan “Orang pintar bayar pajak” bisa terlaksana sesuai keinginan dan tujuannya dan terdengar diberbagai berita baik elektronik dan cetak yaitu “Semua masyarakat sudah membayar pajak” serta tidak akan terdengar kembali kata “Korupsi”.

    • Dedek Darmadi
      30. May, 2012 at 1:54 pm #

      Wwbsite : dedekdarmadi@blogspot.com

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:29 pm #

      Mudah2an kasus Gayus tidak terjadi lagi dan penanganan kasus tersebut bisa memberikan efek jera ya :) Tetap optimis dengan kemajuan negeri ini. Trims ya

  9. Bayu Sutrisno
    30. May, 2012 at 5:23 pm #

    menurut pendapat saya tentang “orang bijak taat pajak” hanya sebuah slogan semata saja, yang didengungkan oleh dirjen Pajak. bertujuan untuk mengajak semua warga negara agar taat membayar pajak tepat pada waktunya. karena yang kita tahu bahwa, pajak tersebut digunakan oleh negara untuk kelancaran pembangunan bangsa.
    Jika kita tahu arti dari pajak sebagai keharusan, maka jadikanlah Pajak menjadi bagian dari kehidupan kita yang harus kita laksanakan.

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:32 pm #

      Jadi tergantung bagaimana kita memaknai dan menyikapi slogan tersebut ya :) Yang jelas pajak merupakan komponen penerimaan negara terbesar, dan semoga bisa dimanfaatkan untuk kemajuan Indonesia.
      Terima kasih ya

  10. Jonathan Hindharta
    31. May, 2012 at 3:19 pm #

    Menurut saya slogan tersebut memang sangat baik untuk disebarluaskan kepada semua orang tetapi kembali lagi dalam penerapan slogan tersebut yang tentunya tidak akan berjalan dengan mudah.
    Selama ini tentunya pasti ada pajak yang masuk ke dalam kas pemerintahan walaupun ada banyak juga yang tidak membayar pajak. Kalau kita lihat, kesejahteraan masyarakat kita walaupun kita sudah membayar pajak, tetaplah tidak meningkat justru banyak yang miskin menjadi semakin miskin saat ini, justru yang terlihat semakin sejahtera adalah para pejabat pemerintahan, mereka dengan mudahnya menggunakan pajak tentu saja untuk memenuhi kebutuhan mereka dan bahkan digunakan untuk membuat fasilitas mewah di kantor pemerintahan yang seharusnya tidak perlu dibuat terlalu mewah. Hal tersebut tentu saja mengecewakan, uang pajak seharusnya digunakan untuk meninngkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memberi masyarakat fasilitas yang baik untuk kehidupan.
    Jika kesejahteraan belum tercapai, maka akan sangat sulit untuk menerapkan slogan “Orang Bijak Taat Pajak” tersebut. Orang yang menjadi wajib pajak akan terus menghindar, karena mereka tentu saja akan berpikir untuk menggunakan uangnya untuk hal lain daripada untuk membayar pajak yang tidak jelas penggunaanya.
    Jika penggunaan pajak dilakukan dengan tepat dan bijak oleh pemerintah,maka akan lebih banyak masyarakat yang sadar membayar pajak, bahkan mungkin tanpa perlu ada himbauan atau slogan dari pemerintah. Karena tentu saja jika pajak digunakan dengan baik, akan banyak masyarakat miskin yang kesejahteraannya meningkat dan perekonomian negara pun juga semakin baik.

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:33 pm #

      Katanya tax ratio Indonesia memang masih rendah, makanya pemerintah terus menggali potensi pajak agar penerimaan negara terus bertambah. Moga2 pemanfaatan pajaknya sesuai dengan yang kita harapkan ya. Trims

  11. Dadi Damanhuri
    02. Jun, 2012 at 3:54 am #

    Hmm, kalau orang yang wajib pajak bukan orang yang bijak bagaimana? Sedangkan orang yang tidak wajib pajak kebanyakan orang-orang yang bijak.

    • admin
      02. Jun, 2012 at 3:34 pm #

      Jadi tidak ada hubungannya dengan bijak atau tidak bijak ya? :)
      Trims ya

  12. Dinda Kirana Ismiranti
    03. Jun, 2012 at 8:24 am #

    Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia memandang dalam satu sudut saja, kenapa ‘segala hal’ selalu yang tampak buruknya saja??? perlulah mengaca juga apa kita sudah termasuk yang paling benar ? Pajak itu memang sudah ada aturannya sebelum Indonesia, Bumi, Bangunan, Barang semuanya juga mempunyai pajak bahkan di negara berkembang. Tidak usah lah sebenarnya kita melihat kondisi yang ‘nikmat’ dari penikmat pajak yang salah toh nanti dia juga kena ‘batu terjalnya’ juga. “Dimana kita berpijak disitu lah ada Pajak”, slogan ini yang perlu diketahui, tapi apakah sama pertimbangan pajak terhadap ‘borjuis’ dengan masyarakat menengah kebawah? misalnya tukang ojek atau PKL atau bahkan tukang becak karena becak ‘barang pribadi’.. Sudah sepatutnya pajak itu bisa memberikan andil yang besar untuk mendapatkan dana untuk Indonesia. Tapi untuk pembayar pajak sebenarnya juga patut mengikuti aturan main ‘pajak’. Kalau memang diharuskan pajak bayarlah. tapi pajak juga harus tetap tegas terhadap aturannya sendiri, jangan seperti peribahasa ‘guru kencing berdiri murid kencing berlari’.. Tetap Jaya Indonesia ku .. =D

    • admin
      05. Jun, 2012 at 5:22 pm #

      Begitulah persepsi dan perspektif dari setiap orang bisa berbeda2, termasuk debat dalam memaknai bahasa atau jargon :) Intinya, bukan jargon dan wacana saja, namun realisasi atau implementasinya ya. trims ya

  13. Gema Reda Ramadhan
    03. Jun, 2012 at 5:07 pm #

    “orang bijak taat bayar pajak” merupakan slogan yang cukup bagus dan menarik meskipun dalam kenyatannya tidak sepenuhnya demikian, tetapi melihat beberapa kejadian kasus-kasus korupsi didirjen pajak ini tantu sedikit menurunkan kepercayaan masyarakat tentang bayar pajak, mungkin harusnya ada sedikit ditambah kata-katanya agar meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk bayar pajak, mungkin bisa menjadi “orang bijak taat bayar pajak, orang bijak tak ambil uang pajak”

    • admin
      05. Jun, 2012 at 5:25 pm #

      Hehehe, jadi berlalu untuk semuanya, bukan pembayar pajak saja ya? Trims, salam

  14. Damian
    19. Dec, 2012 at 1:49 am #

    Great post, really enjoyed it!
    — Damian

    http://www.bigconceptdesigns.com

Leave a Reply

Name (required)

Email (will not be published) (required)

Website